Sabtu, 21 September 2013

POKET PERIODONTAL



POKET PERIODONTAL
Poket periodontal didefinisikan sebagai pendalaman patologis pada sulkus gingiva. Poket periodontal merupakan salah satu gejala klinis dari penyakit periodontal. Semua klasifikasi periodontitis, secara histopatologis menunjukkan perubahan jaringan pada poket periodontal, mekasisme kerusakan jaringan dan juga menunjukkan mekanisme penyembuhan.

KLASIFIKASI
Pendalaman sulkus gingiva dapat terjadi karena pergerakan ke arah koronal dari margin gingiva, perpindahan ke arah apikal dari attachment gingiva, atau kombinasi keduanya. Poket periodontal dapat dikelompokkan menjadi :
Gingival pocket (pseudo pocket): poket jenis ini dibentuk karena gingival enlargement tanpa kerusakan jaringan periodontal. Pendalaman sulkus disebabkan peningkatan gingiva dalam jumlah besar.
Periodontal pocket: poket jenis ini terjadi dengan kerusakan jaringan pendukung periodontal. Keberlangsungan pendalaman poket mengarah ke kerusakan jaringan pendukung periodontal san kehilangan gigi.
Dua jenis poket periodontal :
Suprabony (supracrestal or supraalveolar), dimana dasar poket berada di koronal tulang alveolar.
Intrabony (infrabony, subcrestal or intraalveolar), dimana dasar poket berada di arah apikal sampai perlekatan tulang alveolar. Pada tipe ini, dinding poket berada diantara permukaan gigi dan tulang alveolar.
A. Poket gingiva (pseudo gingiva) B. Poket suprabony C. Poket infrabony


Menurut Carranza (1990), kedalaman poket dibedakan menjadi dua
jenis, antara lain:

  1. Kedalaman biologis
Kedalaman biologis adalah jarak antara margin gingiva dengan dasar poket (ujung koronal dari junctional epithelium).
  1. Kedalaman klinis atau kedalaman probing
Kedalaman klinis adalah jarak dimana sebuah instrumen (probe) masuk kedalam poket. Kedalaman penetrasi probe tergantung pada ukuran probe, gaya yang diberikan, arah penetrasi, resistansi jaringan, dan kecembungan mahkota. 
Kedalaman penetrasi probe dari apeks jaringan ikat ke junctional epithelium adalah ± 0.3 mm. Gaya tekan pada probe yang dapat ditoleransi dan akurat adalah 0.75 N. Teknik probing yang benar adalah probe dimasukkan pararel dengan aksis vertikal gigi dan “berjalan” secara sirkumferensial mengelilingi permukaan setiap gigi untuk mendeteksi daerah dengan penetrasi terdalam. Jika terdapat banyak kalkulus, biasanya sulit untuk mengukur kedalaman poket karena kalkulus menghalangi masuknya probe. Maka,dilakukan pembuangan kalkulus terlebih dahulu secara kasar (gross scaling) sebelum dilakukan pengukuran poket.
Untuk mendeteksi adanya interdental craters, maka probe diletakkan secara oblique baik dari permukaan fasial dan lingual sehingga dapat mengekplorasi titik terdalam pada poket yang terletak di bawah titik kontak 
Pada gigi berakar jamak harus diperiksa dengan teliti adanya keterlibatan furkasi. Probe dengan desain khusus (Nabers probe) memudahkan dan lebih akurat untuk mengekplorasi komponen horizontal pada lesi furkasi.
Selain kedalaman poket, hal lain yang penting dalam diagnostik adalah penentuan tingkat perlekatan (level of attachment). Kedalaman poket adalah jarak antara dasar poket dan margin gingiva. Kedalaman poket dapat berubah dari waktu ke waktu walaupun pada kasus yang tidak dirawat sehingga posisi margin gingiva pun berubah. Poket yang dangkal pada 1/3 apikal akar memiliki kerusakan yang lebih parah dibandingkan dengan poket dalam yang melekat pada 1/3 koronal akar. Cara untuk menentukan tingkat perlekatan adalah pada saat margin gingiva berada pada mahkota anatomis, tingkat perlekatan ditentukan dengan mengurangi kedalaman poket dengan jarak antara margin gingiva hingga cemento-enamel junction.
Insersi probe pada dasar poket akan mengeluarkan darah apabila gingiva mengalami inflamasi dan epithelium poket atrofi atau terulserasi. Untuk mengecek perdarahan setelah probing, probe perlahan-lahan dumasukkan ke dasar poket dan dengan berpindah sepanjang dinding poket. Perdarahan seringkali muncul segera setelah penarikan probe, namun perdarahan juga sering tertunda hingga 30-60 detik setelah probing.

ETIOLOGI ARITMIA DAN ASMA



Etiologi
ARITMIA
  1. Hipoksia: miokardium yang kurang oksigen adalah miokardium yang tidak sehat. Kelainan paru entah itu penyakit paru kronik berat atau emboli paru akut adalah pencetus utama aritmia jantung
  2. Iskemia dan iritabilitas: infark miokardium merupakan keadaan yang umumnya menyebabkan aritmia. Angina juga merupakan pencetus utama, bahkan tanpa perlu adanya Kematian sel miokardium akibat infark. Miokarditis, yaitu peradangan otot jantung yang sering disebabkan oleh infeksi virus berulang dapat mencetuskan aritmia.
  3. Stimulasi simpatis: tonus simpatis yang meningkat karena hipertiroidisme, gagal jantung kongestif, gugup, olahraga, dll dapat mencetuskan aritmia.
  4. Drugs (obat-obatan): banyak obat yang dapat menyebabkan aritmia. Bahkan obat-obatan antiaritmia sendiri seperti kuinidin turut menjadi penyebab aritmia.
  5. Gangguan elektrolit: hipokalemia ditakuti karena krmampuannya mencetuskna aritmia tetapi ketidakseimbangan kalsium dan magnesium turut bertanggung jawab.
  6. Bradikardia: frekuensi jantung yang sangan lambat tampaknya cenderung berubah menjadi aritmia.
  7. Strecth (regangan): pembesaran dan hipertropi atrium dan ventrikel dapat mencetuskan aritmia.
  8. Kelainan struktur sistem konduksi: penderita yang memiliki fetal despersi di AV node dan fasciculo ventricular connection atau yanmemiliki jalur tambahan seperti pada sindrom wollf-parkinson-White sangat mudah mengalami aritmia melalui mekanisme preeksitasi
  9. Interval QT yang memanjang: pada penderita penyakit jantung koroner, kelainan struktur jantung atau gangguan elektrolit yang disertai interval QT memanjang akan lebih sering terjadi aritmia dibandingkan dengan individu normal.
Beberapa etiologi ini dapat saling memberatkan, artinya bila telah ada hipertropi otot jantung misalnya, kemudian pula timbul iskemia dan gannguan keseimbangan elektrolit maka aritmia akan lebih mudah timbul sedangkan mengontrolnya lebih sulit pula.




ASMA
Menurut The Lung Association of Canada, ada dua faktor yang menjadi pencetus asma, yaitu:

1.      Pemicu (trigger) yang mengakibatkan mengencang atau menyempitnya saluran pernafasan (bronkokonstriksi). Pemicu tidak menyebabkan peradangan. Banyak kalangan kedokteran yang menganggap pemicu dan bronkokonstriksi adalah gangguan pernafasan akut, yang belum berarti asma, tapi bisa menjurus menjadi asma jenis intrinsik. Gejala-gejala bronkokonstriksi yang diakibatkan oleh pemicu cenderung timbul seketika, berlangsung dalam waktu pendek dan relatif mudah diatasi dalam waktu singkat. Namun saluran pernafasan akan bereaksi lebih cepat terhadap pemicu, apabila sudah ada, atau sudah terjadi peradangan. Umumnya pemicu yang mengakibatkan bronkokonstriksi termasuk stimulus sehari-hari seperti: perubahan cuaca dan suhu udara, polusi udara, asap rokok, infeksi saluran pernafasan, gangguan emosi, dan olahraga yang berlebihan.
2.      Penyebab (inducer) yang mengakibatkan peradangan (inflammation) pada saluran pernafasan. Penyebab asma (inducer) bisa menyebabkan peradangan (inflammation) dan sekaligus hiperresponsivitas (respon yang berlebihan) dari saluran pernafasan. Oleh kebanyakan kalangan kedokteran, inducer dianggap sebagai penyebab asma sesungguhnya atau asma jenis ekstrinsik. Penyebab asma (inducer) dengan demikian mengakibatkan gejala-gejala yang umumnya berlangsung lebih lama (kronis), dan lebih sulit diatasi, dibanding gangguan pernafasan yang diakibatkan oleh pemicu (trigger). Umumnya penyebab asma (inducer) adalah alergen, yang tampil dalam bentuk: ingestan, inhalan, dan kontak dengan kulit. Ingestan yang utama ialah makanan dan obat-obatan. Sedangkan alergen inhalan yang utama adalah tepung sari (serbuk) bunga, tungau, serpih dan kotoran binatang, serta jamur.
Hadibroto, Iwan. dan Alam, Syamsir. 2006. Asma. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Vitahealth. 2006. Asma, informasi lengkap untuk penderita dan keluarganya. Jakarta : gramedia

ETIOLOGI GAGAL GINJAL KRONIS
Penyebab dari gagal ginjal kronis menurut (Price, 2002), adalah :
1) Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih (SIK) sering terjadi dan menyerang manusia tanpa memandang usia, terutama wanita. Infeksi saluran kemih umumnya dibagi dalam dua kategori besar : Infeksi saluran kemih bagian bawah (uretritis, sistitis, prostatis) dan infeksi saluran kencing bagian atas (pielonepritis akut). Sistitis kronik dan pielonepritis kronik adalah penyebab utama gagal ginjal tahap akhir pada anak-anak. (Price, 2002: 919)

2) Penyakit peradangan
Kematian yang diakibatkan oleh gagal ginjal umumnya disebabkan oleh glomerulonepritis kronik. Pada glomerulonepritis kronik, akan terjadi kerusakan glomerulus secara progresif yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya gagal ginjal.
3) Nefrosklerosis hipertensif
Hipertensi dan gagal ginjal kronik memiliki kaitan yang erat. Hipertensi mungkin merupakan penyakit primer dan menyebabkan kerusakan pada ginjal, sebaliknya penyakit ginjal kronik dapat menyebabkan hipertensi atau ikut berperan pada hipertensi melalui mekanisme retensi natrium dan air, serta pengaruh vasopresor dari sistem renin-angiotensin.
4) Gangguan kongenital dan herediter
Asidosis tubulus ginjal dan penyakit polikistik ginjal merupakan penyakit herediter yang terutama mengenai tubulus ginjal. Keduanya dapat berakhir dengan gagal ginjal meskipun lebih sering dijumpai pada penyakit polikistik

5) Gangguan metabolik
Penyakit metabolik yang dapat mengakibatkan gagal ginjal kronik antara lain diabetes mellitus, gout, hiperparatiroidisme primer dan amiloidosis.

6) Nefropati toksik
Ginjal khususnya rentan terhadap efek toksik, obat-obatan dan bahan-bahan kimia karena alasan-alasan berikut :
a) Ginjal menerima 25 % dari curah jantung, sehingga sering dan mudah kontak dengan zat kimia dalam jumlah yang besar.
b) Interstitium yang hiperosmotik memungkinkan zat kimia dikonsentrasikan pada daerah yang relatif hipovaskular.
c) Ginjal merupakan jalur ekskresi obligatorik untuk kebanyakan obat, sehingga insufisiensi ginjal mengakibatkan penimbunan obat dan meningkatkan konsentrasi dalam cairan tubulus. (Price, 2002:944

Senin, 18 Maret 2013

MEKANISME HIPNOTERAPI PEDODONSIA


Pada saat proses hipnoterapi berlangsung, klien hanya diam. Duduk atau berbaring, yang sibuk justru terapisnya,  yang bertindak sebagai fasilitator. Akan tetapi, pada proses selanjutnya, klien  lah yang menghipnosis dirinya sendiri (Otohipnotis), berikut proses sebuah tahapan hipnoterapi :

1. Pre - Induction (Interview)
Pada tahap awal ini hipnoterapis dan klien untuk pertama kalinya bertemu. Setelah klien mengisi formulir mengenai data dirinya, hipnoterapis membuka percakapan untuk membangun kepercayaan klien, menghilangkan rasa takut terhadap hipnotis / hipnoterapi dan menjelaskan mengenai hipnoterapi dan menjawab semua pertanyaan klien. Sebelumnya hipnoterapis harus dapat mengenali aspek - aspek psikologis dari klien, antara lain hal yang diminati dan tidak diminati, apa yang diketahui klien terhadap hipnotis, dan seterusnya.
Pre - Induction dapat berupa percakapan ringan,  saling  berkenalan, serta hal - hal lain yang bersifat mendekatkan seorang hipnoterapis secara mental terhadap klien  (building rapport). Hipnoterapis juga akan membangun 6 pengharapan mental klien terhadap masalah yang dihadapinya  (building mental expectancy). Pre - Induction merupakan tahapan  yang sangat penting. Seringkali  kegagalan proses hipnoterapi diawali dari proses Pre - Induction yang tidak tepat.

2. Suggestibility Test
Maksud dari uji sugestibilitas adalah untuk menentukan apakah klien masuk ke dalam orang yang mudah  menerima sugesti atau tidak. Selain itu, uji sugestibilitas juga berfungsi sebagai pemanasan dan juga untuk menghilangkan rasa takut terhadap proses hipnoterapi, Uji sugestibilitas juga membantu hipnoterapis untuk menentukan  teknik induksi yang terbaik bagi sang klien.

3. Induction
Induksi adalah cara yang digunakan  oleh seorang hipnoterapis untuk membawa pikiran klien berpindah dari pikiran sadar (conscious) ke pikiran bawah sadar (sub conscious), dengan menembus apa yang dikenal dengan Critical Area.


Critical Area
Sebagian dari critical area berada di wilayah pikiran sadar dan sebagian lagi di pikiran bawah sadar. Critical area hanya menyimpan informasi yang masuk ke pikiran dalam waktu 24 jam terakhir. Setiap sugesti yang bersifat merugikan atau berbahaya bagi klien dan bertentangan dengan cara berpikir dan sistem kepercayaannya akan langsung ditolak. Penolakan ini ntampak jelas bahkan saat klien berada dalam kondisi trance.
            Critica area sebenarnya berfungsi sebagai antisugestive barrier  untuk melindungi pikiran bawah sadar dari pengaruh luar. Ada tiga jenis dari antisuggestive barrier  ini yaitu ; logis, emosional dan etis.
Saat tubuh rileks, pikiran juga menjadi rileks. maka frekuensi gelombang otak dari klien akan turun dari Beta, Alfa, kemudian Theta. Semakin turun  gelombang otak, klien akan semakin rileks, sehingga berada dalam kondisi trance. Inilah yang dinamakan dengan kondisi ter -hipnotis.

Hipnoterapis akan mengetahui kedalaman  trance klien dengan melakukan  Depth Level Test (tingkat kedalaman trance klien). 
Tabel Davis Husband Scale
4. Deepening (Pendalaman Trance)
Jika dianggap perlu, hipnoterapis akan membawa klien ke trance yang lebih dalam. Proses ini dinamakan deepening.

5. Suggestions / Sugesti
Selanjutnya hipnohipnoterapis akan memberikan sugesti - sugesti positif yang bersifat mengobati kepada klien. Sugesti - sugesti ini yang diharapkan akan tertanam di pikiran bawah sadar klien dan menghasilkan perubahan positif terhadap masalah klien.
Pada saat klien masih berada dalam trance, hipnoterapis juga akan memberi Post Hypnotic Suggestion, sugesti yang diberikan kepada klien pada saat proses hipnotis masih berlangsung dan diharapkan terekam terus oleh pikiran bawah sadar klien meskipun klien telah keluar dari proses hipnotis, sehingga pelaksanaannya dilakukan setelah klien bangun dari kondisi itu.  Post Hypnotic Suggestion adalah salah satu unsur  terpenting dalam proses hipnoterapi.  Post-hypnotic suggestion terbagi 2 yaitu:
1.      Non-therapeutic post-hypnotic suggestion (NTPHS)
NTPHS ini tidak mempunyai efek terapeutik dan tidak bermanfaat bagi pengembangan diri. Sering digunakan oleh stage hypnotist dalam pertunjukannya. Contohnya adalaha sugesti yang berbunyi, “saat bangun nanti, anda akan lupa nama anda”. Dan yang terjadi setelahnya adalah benar.

2.      Therapeutic post-hypnotic suggestion (TPHS)
Sugesti ini bersifat konstruktif terhadap proses terapi dan secara langsung berguna bagi kemajuan klien. Selain itu TPHS juga dapat membuat klien menjadi lebih mudah untuk masuk ke dalam kondisi trance pada sesi terpai selanjutnya. Contohnya: “setiap kali Anada menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, maka Anda akan merasakan kembali kedamaian dan ketenangan pikiran”.

6. Termination 
Akhirnya dengan teknik yang tepat, hipnoterapis secara perlahan - lahan akan membangunkan klien dari  "tidur" hipnotisnya dan membawanya ke keadaan yang sepenuhnya sadar.

Referensi
Gunawan, Adi. W. 2006. HypnotherapyThe Art of Subsconcious Restructing. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

PERANAN BUAH ANGGUR DALAM MENCEGAH KARIES


Abstract
            Caries is a hard tissues dissease of teeth caused by bacteria, especially Streptococcus mutans. Streptococcus mutans plays an important role in the development of caries, cause this bacteri will colonizes and forming plaques that finally evolved into caries if not prevented. Tooth brushing and fluoride are common preventive way. But this method is still not sufficient. Other preventive method can be done by anti-plaque agents, both chemical agents and the natural agents could be helpfull to inhibit the bacterial activity. The natural agents, such as grape with its content, biologically proved able to inhibit plaque-causing bacteria. Then, this papers will discuss about the role of the substance contain in grapes and its dairy in preventing caries.
Keywords : grape seed extract, wine, plaque, polifenol, tanin.

Pendahuluan
Salah satu aktor utama dari ekosistem oral adalah plak gigi yang berkembang secara alami pada jaringan keras dan lunak mulut. Biofilm ini memiliki kesatuan yang sangat kompleks yang masih relatif stabil dengan waktu meskipun perubahan lingkungan secara berkala.3
            Plak gigi adalah lapisan lembut yang terbentuk dari campuran antara makrofag, leukosit, enzim, komponen anorganik, matriks ekstraseluler, epitel rongga mulut yang mengalami deskuamasi, sisa-sisa makanan serta bakteri yang melekat di permukaan gigi.7
Bakteri yang berperan penting dalam pembentukan plak gigi adalah bakteri dari genus Streptococcus, yaitu bakteri Streptococcus mutans yang ditemukan dalam jumlah besar pada penderita karies.4 Bakteri Streptococcus mutans  memiliki enzim glikosiltransferase yang dapat mengubah sukrosa saliva menjadi polisakarida ekstraseluler (PSE) melalui proses glikosilasi. Polisakarida ekstraseluler ini akan membentuk suatu matriks di dalam plak dimana bakteri lain dapat melekat. Akumulasi dari bakteri-bakteri inilah yang jika dibiarkan lama kelamaan akan membentuk karies. Oleh karena itu pencegahan utama karies ini ditujukan untuk mengendalikan plak.
Berbagai pencegahan telah dilakukan untuk pembentukan plak. Cara yang paling sering dilakukan adalah menyikat gigi, selain itu pengaplikasian topikal fluor sebagai anjuran dari dokter gigi. Akan tetapi, cara ini masih kurang cukup. Untuk itu, kita perlu mengetahui bahan-bahan lain yang bisa digunakan dalam mencegah terbentuknya plak sehingga mendukung usaha dalam mencegah karies. Bahan-bahan ini bisa kita dapatkan dalam kehidupan kita sehari-hari, bahkan mulai dari makanan yang kita makan yang mengandung zat-zat penghambat aktivitas bakteri.
            Sebagai contoh adalah buah anggur yang sudah tidak asing lagi untuk kita. Buah anggur sangat mudah kita temukan di kehidupan kita sehari-hari, karena buah ini sangat banyak sekali dipasarkan di tiap daerah di Indonesia. Buah anggur ini dipasarkan dalam bentuk buah asli maupun dengan segala jenis olahannya
            Anggur (Vitis vinera) mengandung sejumlah senyawa biologis aktif dengan efek menguntungkan pada kesehatan manusia. Buah  anggur  (Vitis  vinifera) adalah  salah  satu  jenis  buah  yang mengandung  fitokimia golongan  polyphenol  seperti  resveratrol,  tannins, golongan flavonoids  (cathecin), proanthocyanidhin dan  asam  lemak  (oleanolic  acid,  oleanolic aldehid) yang  berfungsi  sebagai  penghambat  glukosilasi  pada  proses pembentukan plak sehingga buah anggur (Vitis vinifera) dapat sebagai alternatif antibakteri dalam pencegahan pembentukan karies.2,8
            Macam-macam olahan buah anggur yang juga telah diteliti dapat menghambat aktivitas bakteri dalam pembentukan plak adalah Wine dan Grape Marc. Wine adalah minuman hasil fermentasi dari buah anggur (Vitis vinera) yang pada akhirnya dapat menghasilkan berbagai macam jenis wine seperti Red Wine, White Wine, Rose Wine, Sparkling Wine, Fruit Wine, Fortified Wine dan lain-lain.8
            Red Wine itu sendiri merupakan hasil fermentasi dari buah anggur merah beserta kulitnya. Yang membedakannya dengan White Wine adalah pada White Wine yang di fermentasi hanya daging buahnya saja sehingga menghasilkan warna putih bening.

Red Wine


            Selain wine, ada juga yang dinamakan Grape Marc. Grape Marc adalah hasil olahan dari buah anggur, berupa sisa kulit dan biji anggur yang sudah di pressed sebelumnya dalam pembuatan Wine. Akan tetapi grape marc ini tidak dikonsumsi langsung oleh orang-orang , melainkan dijadikan sebagai bahan dasar dalam pembuatan makanan. Di Indonesia, grape marc ini dikenal dengan nama kismis.


Grape Marc




KANDUNGAN DALAM BUAH ANGGUR

Buah anggur segar dan hasil olahannya seperti wine dan kismis, selain bisa dikonsumsi sebagai pencuci mulut setelah makan atau sebagai buah penyegar, ternyata berkhasiat bagi kesehatan. Berikut ini kandungan gizi buah anggur dalam setiap 100 garam buah segar
Wiranta, Bernard T. Wahyu. 2008. Membuahkan anggur dalam Pot dan Pekarangan. Tangerang :Agromedia Pustaka

Anggur (Vitis vinera) mengandung sejumlah senyawa biologis aktif dengan efek menguntungkan pada kesehatan manusia. Buah  anggur  (Vitis  vinifera) adalah  salah  satu  jenis  buah  yang mengandung  fitokimia golongan  polyphenol  seperti  resveratrol,  tannins, golongan flavonoids  (cathecin), proanthocyanidhin dan  asam  lemak  (oleanolic  acid,  oleanolic aldehid) yang  berfungsi  sebagai  penghambat  glukosilasi  pada  proses pembentukan plak sehingga buah anggur (Vitis vinifera) dapat sebagai alternatif antibakteri dalam pencegahan pembentukan karies.2,8
Kulit anggur sering digunakan untuk membuat wine dan suplemen makanan. Pada penelitian yang dilakukan Toukarin Taashikatshu, membuktikan bahwa kulit anggur yang dibuat dalam minuman dapat menghambat pertumbuhan S.mutans. Kulit anggur yang dibuat menjadi minuman anggur (wine) dimurnikan sehingga terbukti memiliki kandungan polifenol.
Kulit anggur mengandung polifenol bioflavonoid (quercetin, catechin, flavonol dan anthocyanidin) dan non bioflavonoid (derivatif asam). Kulit anggur merah mengandung flavonoid yang tinggi1.

Peranan dalam pencegahan karies.

Streptokokus mutans  adalah salah satu bakteri khusus yang dilengkapi dengan beberapa reseptor yang dapat meningkatkan adhesi ke permukaan gigi.3 Sukrosa digunakan oleh S.mutans untuk menghasilkan polisakarida yang lengket, ekstraseluler dan berbasis dekstran yang memungkinkan bagi bakteri untuk menyatu dan kemudian membentuk plak.
Faktor virulensi terpenting adalah tingkat keasaman S.mutans. Berbeda dengan mikroorganisme oral lainnya, S.mutans tumbuh dan berkembang dengan baik pada kondisi asam.  Dimana tingkat metabolismenya semakin meningkat ketika pH semakin menurun. Karena pergerakan sistem proton diguanakan dalam pengangkutan nutrisi, dinding sel S.mutans dimodulasi dengan ion hidrogen yang meningkat seiring dengan tingkat keasaman.3
Berdasarkan hasil penelitian, Ekstrak Biji Anggur memiliki dosis non-toksik yang tinggi, sehingga sangat aman untuk dikonsumsi. Selain itu, buah anggur juga memiliki efek terapeutik.
Tabel1 : The cytotoxicity test results of the evaluation of the non-toxic dose for each treatment.

Kandungan dalam buah anggur yang memiliki potensi terbesar dalam menghambat bakter adalah Epikatekin. Sehingga epikatekin merupakan faktor penghambat utama yang terkandung dalam buah anggur untuk mencegah karies


Dalam buah anggur terdapat kandungan zat polifenol. Sebuah penelitian dilakukan untuk meneliti efek antibakterial dari zat polifenol yang terkandung dalam buah anggur. Penelitian ini mengguanakan grape marc dan red wine sebagai bahan penelitian. Pengukuran antibakteri ini menggunakan indeks MIC (konsentrasi hambat minimum) dan MBC (konsentrasi bakterisidal minimum).3
Hasil penelitian menunjukkan bahwa grape marc dan wine  menunjukkan angka MIC dan MBC yang tinggi. Hal ini berarti bahwa kedua ekstrak anggur ini memiliki potensi untuk melawan bakteri kariogenik yang tinggi dengan kandungan polyphenolnya.


            Aktivitas antimikroba dari senyawa fenol yaitu pada konsentrasi rendah, fenol bekerja dengan merusak membran sitoplasma dan dapat menyebabkan kebocoran isi sel, sedangkan pada konsentrasi tinggi zat tersebut berkoagulasi dengan protein seluler. Aktivitas tersebut sangat efektif ketika bakteri berada dalam tahap pembelahan, dengan lapisan fosfolipid di sekeliling sel sedang dalam kondisi yang sangat tipis sehingga fenol dapat nerpenetrasi dengan mudah dan merusak isi sel dari bakteri tersebut.
            Selain itu, dari penelitian juga di dapatkan bahwa GME (grape marc extract) mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi pembentukan biofilm oleh Streptococcus mutans1. Sehingga dapat menghambat terjadinya perlekatan dengan bakteri lainnya. Salah satu komponen penting dari plak gigi adalah glukan yang bersifat lengket yang nantinya akan menjadi tempat perlekatan bakteri-bakteri. Glukan ini disintesis dari sukrosa oleh glucosyltransferase (GTF). GTF ini merupakan faktor virulensi terpenting dalam pembentukan plak gigi. Grape marc memiliki kandungan tanin yang tinggi, karena itu dia mampu menghambat aktivitas enzimatik dari GTF ini.  Fungsi dari tanin itu sendiri adalah menghambat aktivitas glikolisis dan GTF sehingga menghambat pembentukan plak.5
Antibakteri  dalam Red wine dan White wine melawan Streptococcus mutans.


Seperti yang telah dijelaskan di atas, wine adalah olahan buah anggur yang telah difermentasikan. Perbedaan red wine dan white wine ini adalah pada bahan dasarnya. Pada red wine dibuat dengan memproses anggur merah atau anggur hitam. Hasil akhir proses bisa sangat bervariatif, tergantung cuaca, curah hujan, daerah, tanah, type anggur, dll. Sedangkan White wine dibuat dari tipe anggur yang kuning, keemasan, hijau, atau juga beberapa tipe anggur merah. Jika menggunakan anggur merah, kulitnya tidak digunakan, hanya sarinya yang tidak berwarna yang digunakan. Untuk tipe anggur lain: kuning, hijau, keemasan, kulit anggurnya bisa saja digunakan atau juga tidak, dalam proses produksinya.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi wine moderat memiliki efek menguntungkan pada kesehatan manusia. Antioksidan dan sifat antiradikal, terutama anggur merah, yang dikarenakan oleh kandungan polifenol tinggi (1-3), baik untuk melindungi terhadap risiko penyakit jantung koroner dan kanker.5
Wine memiliki agen anti-mikrobial. Agen antimikroba alami yang terkandung di dalamnya efektif untuk melawan oral patogen yang memainkan peranan penting dalam mencegah karies. Agen anti mikroba itu adalah zat-zat yang terkandung dalam wine seperti fenol, flavonoid dan proantocyanidin.9
Flavonoid merupakan gabungan dari senyawa fenol sehingga memiliki mekanisme antibakteri yang hampir mirip dengan senyawa fenol. Bedanya, flavonoid ini bersifat agak asam sehingga dapat larut dalam basa, juga dapat larut dalam pelarut polar seperti etanol, methanol, buthanol, aseton, air dan sebagainya1. Flavonoid menunjukkan sifat antimikroba, antiinflamasi, antikanker dan anti alergik. Flavonoid juga berfungsi sebagai antioksidan dalam menyingkirkan radikal bebas.2
             Baik wine merah dan putih terbukti dapat mengerahkan secara in vitro aktivitas antibakteri terhadap streptokokus oral, beberapa S. pyogenes dan menyebabkan efek postcontact terhadap S. mutans. Terlebih karena adanya kandungan asam Suksinat, malat, laktat, asam tartarat, sitrat, asetat yang semunya bersifat antibakteri.5
            Sebuah penelitian dilakukan dengan menghilangkan alkohol (dealkoholisasi) pada red dan white wine sebelum uji mikrobiologi untuk meniadakan campur tangan etanol pada pertumbuhan Streptococcus mutans. Penelitian menunjukkan bahwa kedua wine ini aktif dan perbedaan aktivitas antibakterinya bergantung pada jenis strain bakteri apa yang dilawan.
            Hasil penelitian menunjukkan Red wine memiliki aktivitas antibakteri yang lebih kuat dibanding White wine, walaupun perbedaannya tidak terlalu signifikan. Ini dikarenakan Red wine mengikutsertakan kulit anggur dalam olahannya. Dimana kita tahu bahwa kulit anggur sangat kaya akan senyawa fenol yang bersifat antimikroba sehingga juga mencerminkan selang waktu dimana sel-sel meregenerasi molekul enzim aktif setelah pemisahan ikatan senyawa bioaktif wine yang di dealkoholisasi dari lokasi target pada red wine lebih cepat5.

KESIMPULAN
            Karies merupakan penyakit jaringan keras gigi yang prevalensi terjadinya cukup tinggi. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan. Pencegahan karies dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Salah satu cara alternatif adalah dengan mengonsumsi makanan yang mengandung zat antibakteri, seperti anggur. Anggur memiliki senyawa polifenol, flavonoid, proantosianidin dan senyawa lainnya yang sangat efektif dalam menghambat aktivitas Streptococcus mutans di dalam rongga mulut.














Referensi
1.      Acton, Ashton. 2011. Advance in Ethanol Reasearch and Aplication / 2011 Edition. Atlanta, Georgia : Scholarly Edition.
2.      Astawan, Made. 2008. Khasiat Warna Warni Makanan. Jakarta : Gramedia
3.      A. Furiga, A. Lonvaud-Funel dkk. 2007. In vitro anti-bacterial and anti-adherence effects of natural polyphenolic compounds on oral bacteria. Journal of Applied Microbiology ISSN 1364-5072
4.      Hala EL-Adawi. 2012. Inhibitory Effect of Grape Seed Extract (GSE) on Cariogenic Bacteria. Journal of Medical Plants Vol. 6(34).
5.      MARIA DAGLIA, ADELE PAPETTI, dkk. 2007. Antibacterial Activity of Red and White Wine against Oral Streptococci. Journal of Agricultural and Food Chemistry. 55, 5038-5042
6.      S. Pavan, Q. Xie dkk. 2011. Biomimetic Approach for Root Caries Prevention Using a Proanthocyanidin-Rich Agent. Journal of Caries Research 2011;45:443–447
7.      Kidd, Edwina & Sally Joyston. 1992. Dasar-dasar karies penyakit dan penanggulangannya. Jakarta : EGC.
8.      Wiranta, Bernard T. Wahyu. 2008. Membuahkan anggur dalam Pot dan Pekarangan. Tangerang :Agromedia Pustaka
9.      Whidia, Febrina Natarini. 2007. PERBANDINGAN EFEK ANTIBAKTERI JUS ANGGUR MERAH (Vitis vinifera) PADA BERBAGAI KONSENTRASI TERHADAP Streptococcus mutans. Semarang : Universitas Diponegoro